SEJARAH E-COMMERCE
1. Lahirnya e commerce di Amerika
Sejarah perkembangan E-dagang di
dunia di mulai dari kemunculan internet yang kemudian terus berkembang sehingga
timbulah E-dagang (E-commerce). Internet mulai lahir pada tahun
1969 kelompok peneliti Amerika berhubungan dengan empat komputer di UCLA,
Stanford Research Institute, Universitas Utah, dan Universitas California di
Santa Barbara. Mereka menciptakan sebuah jaringan untuk berkomunikasi antara
satu dengan yang lain.
Jaringan ini dikenal dengan istilah ARPAnet – ARPA merupakan singkatan dari
Advanced Research Project Agency yang merupakan bagian dari Departemen Keamanan
AS. Tiga tahun kemudian, lebih dari lima puluh universitas telah terhubung
bersama-sama dalam jaringan (network), dan jaringan komputer yang
lain mulai muncul di sekitar negara dan dunia. Seiring dengan perkembangan
ARPAnet, yang diikuti pula dengan kerjasama jaringan antara kaum pendidik, dan
eksperimen NASA mengenai jaringan komputer, jaringan ini mulai terhubungkan
satu dengan yang lain, inilah awal mula dipakai istilah “Internet”.
Di Indonesia, sistem E-commerce ini kurang populer, karena banyak
pengguna internet yang masih meragukan keamanan sistem ini, dan
kurangnya pengetahuan mereka mengenai apa itu E-Commerce yang
sebenarnya. Sehingga sampai saat ini, web resmi yang telah
menyelenggarakan e-commerce di Indonesia adalah RisTI Shop. Risti, yaitu
Divisi Riset dan Teknologi Informasi milik PT. Telkom, menyediakan
layanan e-commerce untuk penyediaan informasi produk peralatan
telekomunikasi dan non-telekomunikasi. Web ini juga telah mendukung
proses transaksi secara online.
Ecommerce sendiri berasal dari layanan EDI (Electronic Data
Interchange), layanan EDI ini telah berkembang sedemikian pesatnya di
negara-negara yang mempunyai jaringan komputer dan telepon. Jika
sebelumnya kita telah sering menggunakan media elektronik seperti
telepon, fax, hingga handphone untuk melakukan perniagaan / perdagangan,
sekarang ini, kita dapat menggunakan internet untuk melakukan
perniagaan. E-Commerce memiliki beberapa jenis, yaitu:
– Business to business (B2B):
Bisnis antara perusahaan dengan perusahaan lain
– Business to consumer (B2C):
Retail, sifatnya melayani pelanggan yang bervariasi
– Consumer to consumer (C2C):
Sifarnya lelang (auction)
– Government: G2G, G2B, G2C,
melakukan layanan terhadap perusahaan untuk keperluan bisnis hingga melayani masyarakat
Manfaat E-Commerce :
- Revenue stream baru
- Market exposure, melebarkan jangkauan
- Menurunkan biaya
- Memperpendek waktu product cycle
- Meningkatkan customer loyality
- Meningkatkan value chain
Perkembangan e-commerce di Indonesia sendiri telah ada sejak tahun 1996, dengan berdirinya Dyviacom Intrabumi atau D-Net (www.dnet.net.id)
sebagai perintis transaksi online. Wahana transaksi berupa mal online
yang disebut D-Mall (diakses lewat D-Net) ini telah menampung sekitar 33
toko online/merchant. Produk yang dijual bermacam-macam, mulai dari
makanan, aksesori, pakaian, produk perkantoran sampai furniture. Selain
itu, berdiri pula http://www.ecommerce-indonesia.com/,
tempat penjualan online berbasis internet yang memiliki fasilitas
lengkap seperti adanya bagian depan toko (storefront) dan shopping cart
(keranjang belanja). Selain itu, ada juga Commerce Net Indonesia – yang
beralamat di http://isp.commerce.net.id/.
Sebagai Commerce Service Provider (CSP) pertama di Indonesia, Commerce
Net Indonesia menawarkan kemudahan dalam melakukan jual beli di
internet. Commerce Net .
Indonesia sendiri telah bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang
membutuhkan e-commerce, untuk melayani konsumen seperti PT Telkom dan
Bank International Indonesia. Selain itu, terdapat pula tujuh situs yang
menjadi anggota Commerce Net Indonesia, yaitu Plasa.com, Interactive Mall 2000, Officeland, Kompas Cyber Media, Mizan Online Telecommunication Mall dan Trikomsel.
Kehadiran e-commerce sebagai media transaksi baru ini tentunya
menguntungkan banyak pihak, baik pihak konsumen, maupun pihak produsen
dan penjual (retailer). Dengan menggunakan internet, proses perniagaan
dapat dilakukan dengan menghemat biaya dan waktu.
Perkembangan e-Commerce di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.
E-commerce sebetulnya dapat menjadi suatu bisnis yang menjanjikan di
Indonesia. Hal ini tak lepas dari potensi berupa jumlah masyarakat yang
besar dan adanya jarak fisik yang jauh sehingga e-commerce dapat
dimanfaatkan dengan maksimal. Sayangnya, daya beli masyarakat yang masih
rendah dan infrastruktur telekomunikasi yang tidak merata di
daerah-daerah lainnya membuat e-commerce tidak begitu populer. Hal ini
tak lepas dari jumlah pengguna internet di Indonesia yang hanya sekitar 8
juta orang dari 215 juta penduduk. Selain itu, e-commerce juga belum
banyak dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Meskipun relatif banyak perusahaan yang sudah memasang homepage,
hanya sedikit yang memfungsikannya sebagai sarana perniagaan/perdagangan
online. Sebagian besar homepage itu lebih difungsikan sebagai media
informasi dan pengenalan produk. Menurut Adji Gunawan, Associate Partner
dan Technology Competency Group Head Andersen Consulting, secara umum
ada tiga tahapan menuju e-commerce, yakni: presence (kehadiran),
interaktivitas dan transaksi. Saat ini, kebanyakan homepage yang
dimiliki perusahaan Indonesia hanya mencapai tahap presence, belum pada
tahap transaksi. Pada akhirnya, perkembangan teknologi dan peningkatan
pengguna internet di Indonesia akan membuat e-commerce menjadi suatu
bisnis yang menjanjikan